Mimpi Tambang Tak Lagi Pasti, Tenaga Lokal Terdesak di Tengah PHK
- account_circle admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 28
- print Cetak

Mimpi Tambang Tak Lagi Pasti, Tenaga Lokal Terdesak di Tengah PHK
BERAU — Persaingan kerja di sektor pertambangan di Kabupaten Berau kian ketat di tengah masuknya tenaga kerja dari luar daerah dan berkurangnya tenaga kerja lokal. Kondisi ini menjadi sorotan pemerintah daerah karena dinilai mempersempit peluang kerja bagi masyarakat setempat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Berau, Anang Sapriani, mengatakan fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan penyesuaian produksi yang dilakukan sejumlah perusahaan tambang.
“Kadang yang dikurangi tenaga lokal, tapi tenaga dari luar masuk. Nah itu yang mau kita sasar,” tegasnya.
Ia menilai situasi ini menjadi persoalan serius. Di saat masyarakat lokal menghadapi keterbatasan lapangan kerja, justru terjadi arus masuk tenaga kerja dari luar daerah.
Menurut dia, sektor pertambangan masih menjadi pilihan utama atau “primadona” bagi pencari kerja di Berau. Kondisi ini membuat banyak masyarakat hanya menggantungkan harapan pada satu sektor.
“Sampai sekarang yang jadi primadona masih tambang. Padahal bekerja di sektor lain juga itu pekerjaan,” ujarnya, Jumat (24/4/26).
Ia menjelaskan, pola pikir tersebut memicu munculnya persepsi pengangguran, ketika seseorang merasa tidak bekerja hanya karena tidak terserap di sektor tambang.
“Begitu tidak bisa masuk tambang, seolah-olah merasa pengangguran,” katanya.
Padahal, peluang kerja di sektor lain seperti perdagangan, jasa, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih terbuka dan dapat menjadi alternatif sumber penghasilan.
Namun demikian, kondisi industri tambang saat ini disebut tidak sepenuhnya stabil. Sejumlah perusahaan tengah melakukan efisiensi serta pengurangan produksi yang berdampak pada tenaga kerja.
“Sekarang ini ada penciutan produksi. Boro-boro tambah tenaga kerja, mereka malah melakukan pengurangan,” ungkapnya.
Situasi ini menjadi ironi. Di satu sisi minat masyarakat terhadap sektor tambang sangat tinggi, tetapi di sisi lain daya serap tenaga kerja justru menurun.
Anang menegaskan, perusahaan perlu memberi perhatian lebih terhadap tenaga kerja lokal, terutama di tengah terbatasnya lapangan kerja saat ini.
“Kalau tidak bisa menambah, jangan sampai melakukan pengurangan lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan ketenagakerjaan di Berau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga menyangkut ketimpangan peluang serta tingginya ketergantungan pada sektor tambang.
Karena itu, menurut dia, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat agar tidak hanya bergantung pada satu sektor, sekaligus mendorong perusahaan untuk lebih adil dalam menyerap tenaga kerja lokal. (tnr)
- Penulis: admin
