Pelatihan Gambus Bergulir di Berau: Warisan Budaya Dijaga, Generasi Muda Didorong Terlibat
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB – Upaya menjaga napas seni tradisional terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), pelatihan alat musik gambus digelar beberapa bulan lalu di kantor Disbudpar. Sebanyak 20 pelajar tingkat SLTA dari berbagai sekolah hadir untuk belajar dan menekuni salah satu alat musik bersejarah khas Berau itu.
Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir, menilai pelestarian seni tak hanya lahir dari dokumentasi dan pameran, tetapi juga dari regenerasi yang nyata. Pelatihan ini, kata dia, menjadi langkah awal agar gambus tidak sekadar dikenal, melainkan dimainkan dan dicintai generasi muda.
“Pelatihan ini tidak berhenti di sini. Kami ingin menjadikannya program berkelanjutan. Ke depan, kami berharap bisa menggelar lomba musik tradisional khas Berau, termasuk Japin, Daling, seni Dayak, hingga olahraga tradisional seperti Kuntau,” ujarnya.
Disbudpar juga menyiapkan agenda penghargaan bagi para pelaku seni musik tradisional pada peringatan Hari Jadi Berau mendatang. Ilyas menegaskan, pelestarian budaya harus dibangun tanpa menutup ruang bagi budaya lain untuk tumbuh, namun identitas lokal tetap wajib dijaga.
“Budaya kita harus tetap orisinil, berkembang tanpa kehilangan akar,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Bupati Berau, Sri Juniarsih. Ia mengapresiasi langkah Disbudpar sebagai bentuk nyata perlindungan terhadap warisan budaya. Menurutnya, seni tradisional adalah identitas sekaligus kekayaan daerah yang tidak dapat digantikan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ini langkah konkret menjaga warisan budaya kita. Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen mendukung pelestarian kesenian daerah melalui pelatihan, lomba, hingga pemberian penghargaan bagi para seniman,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi batu pijakan kebangkitan seni tradisional di kalangan pelajar. Di tengah derasnya modernisasi, gambus dan kesenian daerah lainnya disiapkan untuk tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (adv/yf)
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar