Proyek BUMA Site Lati Tamat 2026, Berau Bersiap Hadapi Gelombang PHK
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- print Cetak

BERAU – Satu per satu era kejayaan tambang batu bara di Berau mulai mendekati garis akhir. Setelah 22 tahun menjadi tulang punggung operasi di wilayah Berau Coal Site Lati, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) bersiap menutup proyeknya pada 2026. Ribuan pekerja diperkirakan akan ikut terseret arus penutupan ini, bersama denyut ekonomi yang selama ini hidup di sekeliling tambang.
Perusahaan jasa kontraktor pertambangan tersebut mulai beroperasi di Site Lati sejak 2004. Selama lebih dari dua dekade, BUMA menjadi salah satu pemain utama yang menggerakkan aktivitas pertambangan di kawasan itu.
Kepala Bidang Hubungan Industrial (HI) Disnakertrans Berau, Sony Perianda, mengonfirmasi adanya rencana pengurangan tenaga kerja seiring berakhirnya masa kontrak BUMA di Site Lati.
“Sudah ada beberapa pemberitahuan secara menyurat dari PT BUMA Site Lati ke Disnakertrans Berau,” ujarnya.
Sony memaparkan, proses pengurangan pekerja diperkirakan mulai berjalan sekitar Agustus 2026, bertepatan dengan berakhirnya proyek perusahaan di lokasi tersebut. Imbasnya tidak hanya menyentuh pekerja kontrak, tetapi juga karyawan tetap yang selama ini menggantungkan hidup pada aktivitas tambang.
Meski demikian, Disnakertrans Berau menegaskan para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja masih memiliki payung perlindungan melalui program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan, sepanjang perusahaan telah memenuhi kewajiban kepesertaan.
“Syaratnya pekerja sudah didaftarkan oleh perusahaan. Itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan,” jelasnya.
Sony menjelaskan, para pekerja terdampak tidak sepenuhnya tertutup peluang untuk bangkit. Mereka bisa kembali membidik posisi di perusahaan lain, atau memilih banting setir menjadi pelaku usaha mandiri.
“Pada intinya, beberapa dari mereka pasti masih mau bekerja. Perusahaan pertambangan di Berau ini tidak hanya satu perusahaan saja,” katanya.
Menurut Sony, sektor pertambangan di Berau masih menyimpan ruang penyerapan tenaga kerja. Namun, kesempatan itu tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing perusahaan dan mekanisme rekrutmen yang mereka jalankan.
Di luar persoalan hubungan industrial, rencana penutupan proyek BUMA Site Lati juga memantik kekhawatiran lebih luas: nasib ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada denyut tambang. Selama puluhan tahun, keberadaan BUMA ikut memutar roda usaha warga, dari jasa transportasi, rumah kontrakan, warung makan, hingga beragam usaha kecil di sekitar kawasan tambang.
Jika aktivitas operasional benar-benar berhenti pada 2026, perputaran uang di wilayah penyangga tambang dikhawatirkan melambat. Banyak pihak berharap proses pengakhiran proyek dilakukan secara bertahap dan terukur, agar tidak memicu gejolak sosial maupun lonjakan pengangguran di Kabupaten Berau.
Di tengah kecemasan itu, muncul harapan baru pada perusahaan-perusahaan tambang batu bara lain yang masih aktif di sejumlah kecamatan, terutama yang jauh dari pusat kota. Pekerja eks BUMA Site Lati dinilai memiliki jam terbang tinggi dan keterampilan yang teruji di sektor pertambangan, sehingga diharapkan tetap bisa terserap kembali di dunia kerja dan terus berkontribusi bagi industri serta perekonomian daerah. (tnr)
- Penulis: admin
