PT HSB Bantu Penanganan Karhutla, Pos Damkar Labanan Ungkap Keterbatasan Personel
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 61
- print Cetak

BERAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah cuaca panas dan kering di Kabupaten Berau kembali menyoroti kesiapan personel dan dukungan operasional di lapangan. Di Pos Pemadam Kebakaran Labanan, misalnya, hanya terdapat satu petugas pemerintah daerah yang bertugas. Selebihnya, penanganan kebakaran banyak mengandalkan relawan masyarakat.
Di tengah kondisi itu, PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menyalurkan bantuan personel, bahan bakar minyak, konsumsi, serta kendaraan operasional untuk mendukung penanganan karhutla, Rabu, (12/8).
Komandan Pos Pemadam Kebakaran Labanan, Dwi Susilo, mengatakan dukungan dunia usaha dibutuhkan karena anggaran pemadam kebakaran yang tersedia lebih banyak diperuntukkan bagi penanganan kebakaran permukiman.
“Harapannya ada perusahaan-perusahaan atau dunia usaha lainnya, maupun pemilik lahan, yang bisa memberikan kontribusi. Karena anggaran kami di Damkar ini khusus untuk pemadaman permukiman, bukan untuk kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Dwi mengatakan HSB memberikan satu drum BBM, konsumsi, satu unit kendaraan operasional, serta personel yang dapat diterjunkan bersama petugas ketika terjadi kebakaran.
“HSB ini sudah sangat membantu. Ada bantuan BBM, konsumsi, unit mobil, tim pemadam, dan SDM. Kami sangat berterima kasih karena setiap tahun Hutan Sanggam membantu kami,” katanya.
Menurut dia, persoalan penanganan karhutla bukan hanya menyangkut ketersediaan kendaraan dan logistik. Keterbatasan personel juga menjadi kendala, terutama ketika kebakaran terjadi di wilayah yang cukup jauh atau membutuhkan penanganan dalam waktu lama.
Di Pos Damkar Labanan, Dwi menyebut dirinya menjadi satu-satunya petugas yang berasal dari pemerintah daerah. Personel lainnya merupakan relawan masyarakat yang tidak setiap waktu dapat dikerahkan.
“Petugas asli yang memang dari Pemda saya sendiri. Sisanya relawan masyarakat. Kalau mereka punya waktu longgar, mereka bisa membantu. Tapi kalau ada kebutuhan pekerjaan atau kehidupan mereka, tentu tidak bisa selalu membantu,” ujarnya.
Perwakilan PT Hutan Sanggam Berau, YP Kurniawan, mengatakan dukungan terhadap pengendalian kebakaran hutan telah dilakukan perusahaan secara rutin setiap tahun.
“Hari ini kita menyerahkan bantuan personel dan logistik dalam rangka penanganan kebakaran. Kita harapkan perusahaan lain juga bisa mengikuti apa yang dilakukan HSB,” ujarnya.
Menurut Kurniawan, meski dukungan tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, pembiayaannya di HSB dialokasikan melalui kegiatan pengamanan dan perlindungan hutan.
“Ini sudah rutin kita adakan setiap tahun untuk membantu pengendalian kebakaran hutan. Ini bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga ekosistem hutan kita,” katanya.
Untuk mendukung operasi lapangan, HSB menyiapkan satu kendaraan pemadaman dan empat personel. Tim tersebut dapat bergerak bersama petugas pemadam ketika ditemukan titik api, terutama di kawasan sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Kalau ada titik api, kita lakukan pemadaman. Ada satu unit kendaraan operasional pemadaman yang kita ikutkan untuk membantu pengendalian kebakaran hutan,” jelasnya.
Kurniawan mengatakan jangkauan bantuan untuk sementara masih diprioritaskan di sekitar wilayah perusahaan. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu pertimbangannya.
“Sekitar lingkar perusahaan yang kita utamakan dulu karena anggaran kita juga terbatas. Hutan yang utama kita lakukan pengamanan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan risiko kebakaran meningkat seiring kondisi cuaca yang panas dan kering. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dinilai dapat memperbesar potensi munculnya kebakaran yang sulit dikendalikan.
“Kondisi saat ini ekstrem, cuaca sangat panas. Kebakaran sangat mudah terjadi. Kita ingin masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebanyakan api timbul dari pembukaan lahan untuk perkebunan atau ladang,” katanya.
Dukungan HSB diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan satu perusahaan. Dwi mendorong perusahaan lain dan pemilik lahan di sekitar kawasan rawan karhutla ikut menyediakan dukungan operasional maupun personel. Terlebih, keterbatasan tenaga di tingkat pos membuat kolaborasi dengan dunia usaha dan masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi. (afn)
- Penulis: admin
