Kemarau Batasi Sumber Air di Kaltim, Dinkes Ingatkan Risiko Diare dan Penyakit Lingkungan
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 16
- print Cetak

SAMARINDA — Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Timur mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Terbatasnya sumber air membuat masyarakat menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mengingatkan penyimpanan dan penggunaan air yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu masalah kesehatan. Air tercemar dan sanitasi lingkungan yang buruk berpotensi menjadi media penyebaran penyakit, terutama diare dan gangguan kulit.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Sebab, sumber air yang semakin terbatas berpotensi digunakan secara bersama-sama oleh manusia maupun hewan.
Kondisi tersebut, menurut dia, meningkatkan risiko pencemaran sumber air oleh berbagai kotoran.
“Kalau kekeringan, sumber air itu sangat terbatas. Kebutuhan air masyarakat menjadi kebutuhan utama. Sumber-sumber air itu akan didatangi bukan hanya manusia, mungkin juga binatang dan sebagainya, sehingga bisa menjadi media penyakit menular, misalnya diare,” kata Jaya belum lama ini
Jaya mengatakan penyakit yang berkaitan dengan pencemaran air dan lingkungan perlu menjadi perhatian masyarakat. Risiko penularan penyakit akibat kontaminasi urine tikus, kata dia, juga perlu diwaspadai.
“Demam kuning yang disebabkan karena kencing tikus juga perlu diwaspadai. Gejalanya paling banyak diare,” ujarnya.
Dinkes Kaltim, kata Jaya, terus melakukan sosialisasi mengenai potensi penyakit yang dapat muncul akibat penggunaan air tercemar selama musim kemarau.
Masyarakat diminta memastikan air untuk kebutuhan sehari-hari tetap dalam kondisi bersih dan aman. Tempat penampungan air juga perlu dijaga kebersihannya agar tidak justru menjadi sumber pencemaran.
Ancaman kesehatan selama kemarau tidak hanya berasal dari persoalan air dan sanitasi.
Cuaca yang lebih kering membuat debu lebih mudah beterbangan. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama bagi warga yang sensitif terhadap kualitas udara.
Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat selama musim kemarau. Kebersihan tubuh dan lingkungan perlu dijaga, kualitas air harus dipastikan aman, serta paparan debu sebisa mungkin dikurangi untuk mencegah gangguan kesehatan. (afn)
- Penulis: admin
