Imbas Krisis Global, Harga Plastik Naik dan Tekan Biaya Usaha Warung Kecil di Berau
- account_circle admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tanjung Redeb — Kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kabupaten Berau. Sejumlah pedagang mengaku lonjakan harga kantong plastik memengaruhi biaya operasional usaha mereka.
Ida, 48 tahun, pemilik toko kelontong di Berau, mengatakan harga plastik kresek meningkat cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.
“Dulu satu ikat kresek Rp40 ribu, sekarang sudah Rp60 ribu,” kata Ida, Senin, 6 April 2026.
Menurut dia, kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik. Harga karet gelang yang biasa digunakan untuk mengemas barang juga ikut meningkat.
“Kalau dulu karet satu bungkus Rp14.500, sekarang sudah Rp17.500,” ujarnya.
Kenaikan harga tersebut membuat Ida harus menghemat penggunaan kantong plastik agar tidak menaikkan harga barang yang dijual di tokonya.
Ia mengaku hanya memberikan plastik kepada pembeli yang benar-benar membutuhkan.
“Kalau barangnya bisa ditenteng, biasanya tidak saya kasih kresek. Supaya harga barang tidak ikut naik,” kata Ida.
Ia berharap harga plastik bisa kembali stabil sehingga tidak semakin membebani pedagang kecil.
“Semoga saja harga kresek bisa kembali seperti dulu,” ujarnya.
Pemerintah sebelumnya menyebut kenaikan harga plastik dipengaruhi gangguan pasokan bahan baku utama, yakni nafta, yang sebagian besar masih diimpor dari Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kondisi geopolitik di kawasan tersebut berdampak pada distribusi bahan baku ke Indonesia.
“Nafta kita impor dari Timur Tengah, sehingga kita terdampak dari pasokan bahan baku itu. Saat ini kami sedang mencari alternatif dari negara lain,” kata Budi.
Nafta merupakan turunan minyak bumi yang digunakan dalam produksi plastik, resin, dan karet. Gangguan pasokan bahan baku ini mendorong kenaikan biaya produksi di sektor industri, yang kemudian berdampak hingga ke tingkat pedagang kecil.(tnr)
- Penulis: admin
