Dua Karateka Cilik Berau Bersinar, Kakak Beradik Taklukkan Arena Nasional
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 17
- print Cetak

Balikpapan — Riuh tepuk tangan memenuhi arena saat satu per satu nama pemenang diumumkan. Di antara ratusan atlet dari berbagai daerah, dua nama dari Kabupaten Berau berulang kali terdengar. Bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena kisah di baliknya: mereka adalah kakak beradik.
Sophia Aerilyn Malaeka dan Serhan Tariq Ibrahim tampil mencuri perhatian dalam ajang Piala Menteri Pertahanan RI 2026 yang berlangsung 1–3 Mei di Balikpapan. Di usia yang masih belia, keduanya menunjukkan ketenangan, disiplin, dan keberanian yang tak banyak dimiliki atlet seusia mereka.
Sophia, siswi kelas 5 SD Ash-Showah kelahiran Tarakan, 2 Mei 2014, tampil nyaris tanpa cela. Ia meraih dua medali emas pada kategori debut pemula, masing-masing dari nomor kata perorangan putri dan kumite perorangan putri kelas -25 kilogram. Gerakannya rapi, pukulannya presisi, dan ekspresinya tenang—seolah tekanan pertandingan tak menyentuhnya.
Di sisi lain arena, sang adik, Serhan, tak kalah bersinar. Siswa kelas 3 SD Ash-Showah kelahiran Tarakan, 16 Agustus 2016 itu juga membawa pulang dua emas dari nomor kumite putra kelas -30 kilogram, masing-masing di kategori usia dini dan debut. Ia menambah koleksi dengan satu medali perak dari nomor kata perorangan. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan keberanian besar saat berhadapan dengan lawan.
Keduanya merupakan atlet binaan Dojo Kodim 0902/BRU. Di bawah bimbingan pelatih Yurna, serta dukungan pelatih kumite Elcorado Hutagaol dan pelatih kata Muhammad Dafa, mereka ditempa melalui latihan yang konsisten dan disiplin.
Perjalanan mereka dimulai dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Dari sana, minat berkembang menjadi keseriusan. Latihan pun tak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari keseharian. Waktu bermain berganti dengan jadwal latihan, dan hari libur sering diisi dengan persiapan menuju kejuaraan.
Bagi sang ayah, Morten, momen melihat anak-anaknya berdiri di podium bukan sekadar kebanggaan, melainkan juga haru. Ia menyaksikan langsung proses panjang yang dilalui keduanya.
“Pasti terharu melihat mereka di usia yang masih belia mampu mengalahkan ego dan mengontrol diri di arena. Ini bukan sekadar bertanding, tapi bagaimana mereka menjalankan strategi dan instruksi pelatih dengan baik,” katanya.
Di balik medali yang diraih, ada tantangan yang tak ringan. Membagi waktu antara sekolah dan latihan menjadi ujian tersendiri. Namun, menurut Morten, anak-anaknya mampu menjalaninya dengan penuh semangat.
“Latihan semakin intens, sementara mereka juga harus tetap fokus belajar. Tapi Alhamdulillah mereka menjalaninya dengan semangat. Kami sebagai orang tua hanya memberikan dukungan penuh, baik secara moril maupun materil,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pembina Dojo Kodim 0902/BRU, Dandim Berau, yang dinilai konsisten memberikan dukungan bagi para atlet muda.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Dandim Berau selaku pembina dojo yang terus memberikan dukungan dan perhatian kepada anak-anak, sehingga mereka bisa berkembang dan meraih prestasi di tingkat nasional,” ucapnya.
Di luar euforia kemenangan, Morten menyimpan harapan yang lebih besar. Ia ingin pembinaan karate di Berau mendapat perhatian lebih, termasuk dengan memperbanyak kejuaraan di tingkat lokal.
“Dengan banyaknya kejuaraan, anak-anak bisa menambah jam terbang sebelum naik ke level yang lebih tinggi, bahkan nasional dan internasional,” katanya.
Prestasi Sophia dan Serhan menjadi gambaran bahwa potensi besar bisa tumbuh dari pembinaan sejak dini. Di balik sabuk dan seragam karate mereka, ada cerita tentang disiplin, keluarga, dan mimpi yang mulai menemukan jalannya.(tnr)
- Penulis: admin
