Krisis Air Bersih di Maratua, DPRD Berau Dorong Teknologi Penyulingan Air Laut
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 22
- print Cetak

BERAU — Persoalan air bersih di Pulau Maratua yang belum teratasi dengan baik dinilai dapat berdampak pada aktivitas harian masyarakat kampung hingga sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan wilayah kepulauan tersebut.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau menyarankan penggunaan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar atau desalinasi sebagai salah satu solusi penanganan krisis air bersih di kawasan itu. Biaya pengadaan teknologi tersebut disebut tidak terlalu besar, berkisar Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mengatakan kebutuhan air bersih di Maratua harus segera ditangani karena berkaitan langsung dengan kehidupan warga maupun kenyamanan wisatawan yang datang ke destinasi tersebut.
Menurut dia, penggunaan teknologi desalinasi menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan pemerintah daerah. Usulan tersebut, kata dia, sebelumnya juga telah disampaikan dalam pembahasan bersama pemerintah daerah.
“Biaya penyulingan air laut menjadi air tawar itu sebenarnya tidak terlalu besar, sekitar Rp2 sampai Rp5 miliar. Kemarin juga sudah kita usulkan pengadaan penyulingan air supaya bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya pada Rabu, 27 Mei 2026.
Ia menilai selama ini ketersediaan air di Maratua masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. Sementara fasilitas penampungan air yang ada disebut belum mampu berfungsi optimal.
“Kalau kita mengandalkan sumber air yang ada sekarang tentu tidak cukup. Penampungan yang dipakai juga belum berfungsi maksimal,” katanya.
Menurut Sumadi, pemerintah perlu mulai mencari alternatif lain yang lebih memungkinkan diterapkan di wilayah kepulauan. Ia berharap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau dapat menghadirkan terobosan baru dalam penanganan air bersih di kawasan pesisir dan pulau terluar.
Ia mencontohkan penerapan teknologi desalinasi di Bali, khususnya di wilayah Badung, yang dinilai berhasil membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Bahkan, menurut dia, sistem tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
“Di Bali sudah ada penyulingan air laut menjadi air tawar. Bahkan bisa mendatangkan PAD,” ucapnya.
Menurut dia, alat penyulingan tersebut dapat digunakan dalam jangka panjang selama proses operasional dan perawatannya berjalan baik. Berdasarkan informasi yang diterimanya, teknologi itu dapat didatangkan dari luar negeri.
“Pemakaiannya bisa jangka panjang. Tinggal bagaimana pengoperasiannya saja,” tambahnya.
Selain persoalan air bersih, DPRD Berau juga menyoroti abrasi yang mulai terjadi di sejumlah kawasan pesisir Maratua. Abrasi dinilai menjadi ancaman lain yang perlu segera ditangani karena berpotensi merusak lingkungan pantai hingga mengganggu permukiman warga.
“Mudah-mudahan ke depan ada anggaran dari PUPR untuk penanganan abrasi. Kami juga mengusulkan bantuan ke provinsi untuk menangani abrasi di daerah yang sekarang terdampak,” tuturnya.(*)
- Penulis: admin
