Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Advertorial Berau » Kehadiran Kapal Lengkong di Perairan Talisayan Jadi Ancaman bagi Nelayan Kecil

Kehadiran Kapal Lengkong di Perairan Talisayan Jadi Ancaman bagi Nelayan Kecil

  • account_circle redaksi Beraunews
  • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
  • visibility 1.216
  • print Cetak

TANJUNG REDEB- Di pesisir selatan, tepatnya di perairan Talisayan, pemandangan kapal-kapal lengkong yang beroperasi menangkap ikan kini menjadi pemandangan lazim. Fenomena yang berlangsung beberapa minggu terakhir ini membawa cerita lain bagi para nelayan kecil di wilayah tersebut.

Ali Wardana, Kepala Kampung Talisayan, mengungkapkan keresahan yang dirasakan oleh masyarakat nelayan. Menurutnya, kehadiran kapal-kapal lengkong tidak hanya mengancam mata pencaharian nelayan lokal tetapi juga menciptakan dilema bagi pemerintah kampung hingga kabupaten.

“Kalau bicara regulasi, pemerintah kampung dan kabupaten memang tidak punya kewenangan untuk izin tangkap atau penindakan. Semua itu dikelola oleh provinsi bahkan pusat,” jelas Ali, Selasa (28/1/2025).

Kapal lengkong, yang diizinkan beroperasi melalui regulasi provinsi dan pusat, disebut Ali menjadi pengganggu utama aktivitas nelayan kecil. “Nelayan sudah banyak mengeluh karena kapal itu menggunakan alat tangkap modern yang hasilnya tentu jauh lebih besar, sementara nelayan kecil hanya mengandalkan alat tradisional,” lanjutnya.

Namun, bukan hanya masalah persaingan hasil tangkapan yang jadi sorotan. Penggunaan teknologi industri modern pada kapal lengkong dinilai membahayakan ekosistem laut, termasuk kelangsungan hidup terumbu karang. “Dampaknya jelas, alat tangkap yang digunakan bisa merusak terumbu karang dan ekosistem laut lainnya,” ungkap Ali.

Dalam keterbatasan kewenangan, Ali berharap besar pada pemerintah provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah pusat untuk segera mencari solusi. Salah satunya adalah pembatasan area operasi kapal-kapal besar seperti lengkong, sehingga para nelayan kecil tetap bisa mengakses jalur tangkap yang layak.

“Harus ada pembagian wilayah tangkap yang adil. Kalau tidak, nelayan kecil seperti kami akan semakin terpinggirkan,” tegasnya.

Kekhawatiran Ali bukan tanpa alasan. Kapal lengkong beroperasi dengan kapasitas yang jauh lebih besar, meninggalkan sedikit ruang bagi nelayan kecil untuk mendapatkan hasil laut. Sebagai pemerintah kampung, ia mengakui hanya bisa melaporkan kondisi ini tanpa kewenangan untuk melakukan tindakan langsung.

“Kami hanya bisa berharap pemerintah provinsi dan pusat mendengar keluhan ini. Solusi harus segera ditemukan, agar kehidupan para nelayan kecil bisa terus berlanjut,” tutupnya.

Di tengah tantangan ini, laut Talisayan yang kaya sumber daya menjadi medan perjuangan bagi nelayan kecil yang terus berupaya bertahan di bawah bayang-bayang kapal-kapal besar. (Marta)

  • Penulis: redaksi Beraunews

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Terasi hingga Kerajinan, UMKM Berau Bersiap Masuki Ekspor Berkelanjutan

    Dari Terasi hingga Kerajinan, UMKM Berau Bersiap Masuki Ekspor Berkelanjutan

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 677
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB- Untuk memperluas jangkauan produk UMKM ke pasar internasional, Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) peningkatan citra produk ekspor. Kegiatan ini berlangsung di lantai dua kantor Diskoperindag Berau dan diikuti oleh 25 pelaku UMKM terpilih. Fokus dari bimtek kali ini adalah membekali para pelaku UMKM dengan pengetahuan praktis […]

  • BPJS Kesehatan Tak Bisa Digunakan di IGD? Ini Alasan dan Kriterianya

    BPJS Kesehatan Tak Bisa Digunakan di IGD? Ini Alasan dan Kriterianya

    • calendar_month Selasa, 22 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 1.036
    • 0Komentar

    Tanjung Redeb — Seorang warga mengeluhkan layanan BPJS Kesehatan yang tidak bisa digunakan pada Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Abdul Rivai. Diana Sari mengatakan dirinya mengajukan penggunaan BPJS untuk perawatan saat masuk IGD. Namun tidak disetujui pihak RSUD dikarenakan tidak termasuk gawat darurat. “Saya belum paham aturan penggunaan BPJS ini, apakah kondisi saya saat […]

  • Perhiasan Imitasi Disangka Emas, Jadi Alasan di Balik Aksi Pembakaran Lima Rumah

    Perhiasan Imitasi Disangka Emas, Jadi Alasan di Balik Aksi Pembakaran Lima Rumah

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Beraunews
    • visibility 856
    • 0Komentar

    Polres Berau – Kepolisian Resor Berau berhasil mengamankan seorang pria berinisial MR (26), yang diduga sebagai pelaku pembakaran dan pencurian saat peristiwa kebakaran di Jalan Andika, Gang Soponyono, Kelurahan Gayam, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, pada Rabu dini hari, 28 Mei 2025. Kapolres Berau AKBP Khairul Basyar menjelaskan, kebakaran terjadi sekitar pukul 03.15 WITA dan […]

  • Stunting Berau Naik ke 25,4%, Wabup Gamalis Minta Penanganan Lebih Fokus dan Terintegrasi

    Stunting Berau Naik ke 25,4%, Wabup Gamalis Minta Penanganan Lebih Fokus dan Terintegrasi

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 374
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB — Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan komitmen mempercepat penurunan stunting melalui pendekatan lintas sektor dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting 2026. Kegiatan ini digelar di Ruang Rapat RPJPD Baplitbang, Senin, 6 April 2026. Wakil Bupati Berau yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Gamalis, mengatakan upaya penanganan stunting harus dilakukan secara lebih […]

  • Dari Kelapa Jadi Minyak dan Sabun, Warga Giring-Giring Mulai Raup Nilai Tambah Ekonomi

    Dari Kelapa Jadi Minyak dan Sabun, Warga Giring-Giring Mulai Raup Nilai Tambah Ekonomi

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 655
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB — Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, memiliki potensi kelapa dalam yang cukup melimpah. Namun selama ini, sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk kelapa butiran tanpa diolah lebih lanjut sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat relatif terbatas. Melalui pendampingan program SIGAP Sejahtera Kabupaten Berau, masyarakat Kampung Giring-Giring mulai mengembangkan hilirisasi komoditas kelapa dalam. […]

  • Derawan Tak Cukup, Berau Mulai Membidik Ekowisata Pedalaman

    Derawan Tak Cukup, Berau Mulai Membidik Ekowisata Pedalaman

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 97
    • 0Komentar

    BERAU– Ketergantungan Kabupaten Berau terhadap sektor pertambangan mulai diarahkan menuju babak baru. Pemerintah daerah menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Arah tersebut masuk dalam pembangunan daerah periode 2025–2029. Namun pekerjaan rumahnya tidak sederhana. Berau tak hanya harus mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi juga memastikan uang […]

expand_less