Tak Hanya Derawan, Berau Juga Menyimpan Kerajaan dalam Dinding Kayu Tua
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB – Wisatawan datang ke Berau biasanya mengejar birunya laut Derawan atau sunyi jernihnya Maratua. Namun, di balik pesona pesisirnya yang menggoda, kabupaten ini menyimpan cerita lain—lebih tenang, lebih dalam—jejak sejarah yang menua, namun tetap bernapas lewat dinding kayu, ukiran pintu, hingga halaman istana yang pernah menjadi pusat kehidupan bangsawan.
Dua kesultanan pernah berdiri di tanah ini: Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur. Dua benteng budaya yang meninggalkan warisan tak ternilai, yang kini menjadi wajah lain pariwisata Berau—lebih historis, lebih dekat dengan akar identitas masyarakatnya. Pemerintah daerah melihatnya sebagai pusaka yang tidak boleh rapuh oleh waktu, tidak boleh tenggelam oleh derasnya modernisasi.
Revitalisasi pun berjalan. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemkab Berau merawat ulang cagar-cagar budaya itu sebagai bagian dari 18 program prioritas Bupati Sri Juniarsih bersama Wakil Bupati Gamalis. Program yang tidak hanya berbicara konservasi fisik, tetapi juga perpanjangan napas bagi sejarah panjang perjalanan Berau.
“Dengan revitalisasi, kita ingin bangunan tidak rusak dan nilai sejarahnya tetap terjaga,” ujar Sri Juniarsih.
Ia menyadari bahwa bangunan-bangunan tua itu bukan sekadar kayu dan batu. Pada tiap dindingnya—tertulis kisah perdagangan, pertemuan bangsa, peperangan kecil, hingga diplomasi adat yang membentuk wajah Berau hari ini. Semua itu, jika hilang, akan terhapus dari memori kolektif generasi berikutnya.
Tiga situs bersejarah kini masuk tahap pemugaran dan perlindungan resmi sebagai cagar budaya. Pemerintah ingin generasi muda dapat berjalan di halaman istana, meraba pagar jati tua, lalu merasakan bahwa sejarah bukan hanya paragraf di buku teks. Bahwa ia nyata, dapat dilihat, disentuh, dan dinikmati sebagai destinasi yang hidup.
Sri memberi contoh Museum Kamar Bola di Teluk Bayur, salah satu lokasi yang merekam kedatangan Belanda pada masa kolonial. Tempat yang sederhana, tetapi memuat gelombang kisah besar tentang identitas lokal dan awal pertemuan budaya.
“Pelestarian peninggalan sejarah adalah cara kita menyampaikan pemahaman masa lalu kepada generasi mendatang,” tuturnya.
Tahun demi tahun, pemeliharaan akan terus dilakukan. Disbudpar memastikan setiap situs yang telah memiliki SK cagar budaya akan dirawat berkelanjutan. Tidak dibiarkan retak, tidak dibiarkan sunyi.
Karena Berau bukan hanya tentang laut, pasir, dan karang. Ia juga tentang ingatan yang menempel pada kerajaan tua, tentang bangunan yang mengajarkan siapa kita, dan tentang warisan yang hanya akan hidup bila dirawat bersama.
Sejarah adalah rumah, dan Berau memilih untuk tidak meninggalkannya. (adv/yf)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar